FIS UNIMED Gelar Opera Batak

Senin, 02 Mei 2016 - 14:26:21 WIB

Civitas Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unimed melalui Jurusan Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Antropologi sangat antusias mengelar opera batak sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Kalangan akademik seharusnya tidak hanya mengkaji konsep teoretis ilmiah saja, akan tetapi berupaya melestarikan dan mempertahankan budaya lokal agar tetap asri, salah satunya pagelaran pementasan Opera Batak di Auditorium Unimed. Selain dipentaskan pada 4-5 Juni 2015, Opera Batak juga dikaji secara akademik di Ruang Sidang FIS Unimed, Rabu (3/6/2015).

Dalam seminar dengan tema “Opera Batak dalam Sejarah Masa Kini” tersebut hadir Wakil Dekan 3 FIS Drs. Liber Siagian, M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Dra. Flores Tanjung, MA., Sekjur Prodi Antropologi Sosial Pascasarjana Dr. Hidayat, MS., Sejarawan Nasional Dr. Phil. Ichwan Azhari, MS., Antropolog Unimed Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak, sejumlah budayawan, dosen, dan mahasiswa.

Seminar sejarah dan budaya ini menghadirkan pembicara; 1) Lena Simanjuntak-Mertes, dari DIG Kol Jerman, 2) Thomson HS, direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt), dan 3) Ir. Gagarin Sembiring, Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumut dan anggota tim percepatan geopark Danau Toba.

Wakil Dekan III FIS Unimed Drs Liber Siagian, M. Si, menyampaikan sambutannya dalam pembukaan acara dengan mengatakan bahwa kami pimpinan FIS sangat menyambut baik dan mendukung acara ini. Menurutnya, Opera Batak sangat layak untuk dikaji sebagai upaya menggali dan mempertahankan budaya Batak yang kian terkikis dengan kebudayaan modern. Opera Batak dihadirkan di Unimed untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda agar merasa memiliki dan menjaganya untuk pembentukan karakter anak bangsa yang cinta akan budayanya.

Opera Batak yang tampil di Auditorium Unimed menampilkan naskah dengan judul  “Perempuan di Pinggir Danau”. Naskah ini ditulis dalam bahasa Indonesia oleh Lena Simanjuntak – Mertes, alumnus Insitut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sudah lama bermukim di kota Koeln, Jerman. Kemudian  diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Jerman, dan Batak Toba serta dengan aksara Batak varian Toba.

Perempuan di Pinggir Danau menceritakan tentang kegalauan perempuan atas rusaknya ekosistem lingkungan Danau Toba. Para perempuan merupakan korban langsung dari kerusakan air, danau, dan mungkin kerusakan geologis di sekitar Danau Toba. Dalam naskah ini dimaknai kembali peran perempuan secara simbolis melalui kesuburan tanah. Dari kesuburan itulah muncul mahluk-mahluk hidup yang ada di dalam air dan danau. Seperti ikan, yang bisa menjelma sebagai seorang perempuan yang murni dan seutuhnya, perempuan juga menunjukkan peran alaminya untuk melanjutkan kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Perempuan yang pernah menjelma dari seekor ikan menjadi manusia merupakan mahluk yang konsisten dengan janji. Janji inilah dalam legenda Danau Toba menjadi perhatian penting dalam proses pemaknaan ulang kalau lingkungan hidup di sekitar Danau Toba masih perlu diperhatikan. ( Humas Unimed).


[ BACK ]
Baca Berita Lainnya
Back to Top